“I don’t need that girl by my side!”

Di sebuah warung kopi, ia bercokol. Satu, dua, tiga gelas telah diteguk olehnya. Bukan whiskey, scotch atau tequila yang ia minum, melainkan kopi karena ia harus tetap terjaga sepanjang hari itu. Dilihat dari matanya yang merah, dan lemah lunglai perawakannya, sepertinya ia butuh tiga gelas lagi.

Penampilannya rapih dan rupawan, pesona yang dipancarkan sungguh menawan. Otak cerdas, dan ketangkasannya jadi senjata utama. seharusnya ratusan wanita sudah tergila-gila padanya. Apakah ada yang salah? Tentu tidak. Yang salah bukanlah wanita2 tersebut, melainkan Joe Dinamit yang telah salah memilih wanita.

Ingatannya mengenai sang wanita menghantuinya. Teguk demi teguk membuat ingatan itu tampak lebih nyata. Seperti hal-hal lain dalam hidupnya, ia hanya teringat hal-hal kecil mengenai sang gadis yang telah pergi meninggalkannya. Senyumnya, gandengan tangannya, saat ia membisikkan kalimat sayang dengan imutnya (づ ̄ ³ ̄)づ (ˇ▼ˇ)-c<ˇ_ˇ) . Suatu hal yg tidak mungkin apabila ada pria yg tidak jatuh cinta dengan gadis itu. Yang membuat semuanya jadi lebih manis, gadis itu menyayangi Joe… Dulu.

“Belle…” Gumam Joe sambil menggaruk-garuk ketiaknya layaknya Bujang. Lalu ia mengupil, dan akhirnya dilanjutkan dengan mengorek2 telinganya. Jari telunjuk telah menjadi senjata paling maut *seandainya ada yg berminat menyerangnya.

Ia pun tidak mencoba bersosialisasi, mengasingkan diri malah. Semua pengunjung warung kopi-pun enggan berdekatan, karena seperti yang anda tau, mellow itu menular.

Dari pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum tampak mellow, kesadaran compos mentis mellowdramatic, Matanya berkaca-kaca, ia menggigit bibirnya seperti pria tambun menggigit bolu pisang. Leher dapat digerakkan ke segala arah, thorax pulmo t.a.k, cor: t.a.k, abdomen: kesan fraktura hepatica. Ekstremitas: digiti 1 manus dextra beraroma aneh, akral hangat, crt < 2detik. Aura mellow meliputi dirinya.

Diagnosis Kerja: serangan mellow akut. Dd/ kebelet eek.

Di tengah keasyikan mengorek telinga, tiba-tiba…
BRAAAKKK!!! *banting meja*
Sang Barista berjenggot tebal membanting meja di depan, Joe! Ia geram karena aura Dinamit mengusir semua pelanggan.

Dinamit pun terbelalak dan lgsg koprol 3 kali ke arah barat daya
SFX: Bet bet bet *seperti film silat tahun 90-an*

“Di dunia ini memang tidak ada tempat untuk orang galau ya…” Ucap Joe sambil membelai rambutnya yg gondrong. Sepertinya ia lupa tangan kanannya sudah super ON steril.

“Mellow sih boleh, tapi jangan kelamaan donk!” Teriak si mr. Jenggot. “Ngerti ngga? Apa harus diajarin pake satu2nya bahasa yg gw ngerti… Bahasa TINJU!!!” Ucapnya sambil mengepal tangannya yg sebesar bola bowling.

“Tinju? Pria barbar seperti lu ngga akan ngerti. Gw bicara bahasa cinta…” Ucap Joe sambil menatap tajam codet berbentuk hello kitty di pipi kanan mr. Jenggot.

Dalam sekejap saja, mereka berdua bertukar tinju, layaknya anak muda jaman sekarang bertukar PIN blackberry, seperti anak muda jaman dahulu bertukar kartu pokemon, seperti orang tua jaman sekarang bertukar kartu nama, seperti emak2 bertukar guntingan kupon dari koran.

Saat Joe akan melayangkan tinju terakhirnya,”Terimaa ini!!!” teriak Dinamit.
Tiba-tiba bayang wanita itu terlintas di benaknya.

*smirk* ia tersenyum simpul
POW!!!
Pukulan telakpun dilayangkan ke titik lemah mr. Jenggot, codet hello kitty-nya. Seketika mr. J lemas lunglai dan jatuh terkapar.

mr. Jenggot terbaring pucat tak bertenaga. Dengan segenap kekuatan yang tersisa ia berkata, “Kau berhasil mengalahkanku anak muda. Sekarang sebut tiga permintaanmu.” mendadak jadi jin Botol. apa-apaan ini?!

“Yang gw mau… Cinta.” Ucap Joe dengan mata berkaca-kaca.

Sambil tersenyum, mr. Jenggot berkata,”Hey, saya jg pernah muda dan putus cinta. Coba dengarkan kisah saya yang satu ini…”

#mendadak adu jotos jadi ajang curcol. Apakah mr. Jenggot juga tertular virus galau? Bagaimanakah kisah putus cinta mister Jenggot? Apa saja yang telah terjadi pada Dinamit selama 1 tahun belakangan ini? bagaimanakah kisah putus cinta Joe? Semua akan terjawab di “Break-up story: Listen to your elder.”