*perhatian*

apabila anda sudah merasa mellow atau galau sebelum membaca catatan ini, sebaiknya anda melakukan lompat tali terlebih dahulu, naikkan adrenalin. karena entah mengapa saya merasa tulisan kali ini lebih mellow dari biasanya. jangan sampai terbawa suasana sang penulis ya. be easy like sunday morning.

“The way to love anything is to realize that it might be lost.”

35 tahun yang lalu, seorang perantau datang ke kota untuk menguji nasibnya. bosan dengan kehidupannya yang datar dan kabar adanya kesempatan untuk mendapat kehidupan yang layak  jadi alasan utamanya untuk ke kota. walau harus pergi jauh meninggalkan kekasihnya ia sudah membulatkan tekadnya.

“Untuk masa depan kita,” ia berkata ke kekasihnya sebelum meninggalkan desa sambil tersenyum lebar.

Pria ini memang sudah lama ingin meninggalkan desanya. Penuh dengan berbagai rencana, kemana ia akan membawa hidupnya. Bahkan ia membuat daftar pencapaiannya selama ini dan yang ia harap akan didapatnya di kota nanti. Namun rencananya yang paling utama adalah untuk hidup bahagia berdua dengan kasihnya.

Untuk bisa jatuh cinta pada masa itu adalah sangat spesial. Apalagi menjalin hubungan jarak jauh. Mungkin karena sarana komunikasi jarak jauh hanyalah lewat surat menyurat. Tapi pria itu tidak khawatir. “Cintanya akan selalu abadi,” pikirnya dalam hati.

Hari-hari ia lalui dengan semangat. Hidup di Kota memang tidak semudah yang ia dengar, bahkan kadang terlalu susah. Setelah 2 tahun ia hidup di kota, ia belum menjadi orang yang sukses. Lelah dengan kehidupan kota dan jauh dari cintanya, ia mengumpulkan uang dan membeli karcis kereta untuk pulang ke kampung halamannya.

“Aku kangen kamu,” kata-kata yang ia harap akan didengarnya. Ia tak bisa berhenti tersenyum lebar sepanjang perjalanan pulang.

Tiap 2 minggu, sejak pergi dari desa, ia selalu mengirim surat untuk kekasihnya. Namun tak pernah berbalas. mungkin wanita itu memiliki kesibukan di desanya, pikirnya. Dan ia memakluminya.

Kereta berganti angkot. Saat sudah sampai di kampungnya, matanya terbelalak.

“Tidak mungkin…”

Ia melihat sebuah tenda biru terpasang dengan megahnya di rumah kekasihnya.

Tanpa pikir panjang, ia berlari dengan segenap kekuatannya dan saat sampai, kedua kakinya yg selalu dapat berdiri kokoh, mendadak lumer seperti es krim ragusa. Di depan matanya, sang kekasih sedang menerima salaman dari warga sekitar. Wanita itu berbusana kebaya, berdiri di sampingnya adalah pria yang memang tidak asing di desa itu karena ia adalah anak kepala desa.

“Inikah alasan surat-suratnya tak dibalas? Inikah yang namanya cinta? Inikah yang namanya putus cinta? Apakah bila ia tidak meninggalkan desa itu, ia dapat hidup bahagia berdua dengannya?” Ide-ide itu muncul di benaknya. Pada saat itu juga ia seakan hilang arah. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan.

Semua tulisan di daftarnya sudah tidak ada artinya lagi. Melihatnya lagi membuat dirinya kesal. Ia meremas kencang-kencang daftar itu hingga berukuran 2 mikro meter dan ia masukan ke kantung bajunya.

Suasana menjadi makin aneh ketika pada akhirnya seluruh warga desa sadar bahwa ia ada di sana. Semua mendadak terdiam kaku membisu. Walau tidak diucapkan langsung, timbul rasa iba kepada sang pria yang putus cinta.

Hanya satu hal yang dapat ia lakukan saat itu. Ia menggendong semua barang-barangnya, mendatangi wanita berkebaya dan suaminya dan menjabat tangannya.

“Jaga dia baik-baik ya. Perempuan ini sungguh istimewa.” Ucapnya pelan ke mempelai pria, sambil tersenyum lebar. Tapi semua bisa melihat ia berusaha sekuat tenaga menahan air matanya. Lalu ia pergi meninggalkan desa itu, untuk melanjutkan perjuangannya di kota. 

Sebelum pergi, ia mengambil kembali gumpalan kertas di sakunya, membuka kembali remasan dengan rapih, mencoret tulisan,”menikah dan hidup bahagia dengan cintaku :)” dan membulatkan tulisan, “membuka warung kopi paling terkenal di kota.”

Begitulah kisah putus cinta mr. Jenggot…

Ribuan pertanyaan terbesit di kepala Joe Dinamit seusai mendengar kisah tersebut. “Bagaimana pria itu memiliki codet berbentuk hello kitty di pipinya? Apa alasan pria itu menumbuhkan jenggotnya? Apakah karena putus cinta? Apakah benar 35 tahun yang lalu sudah ada angkot? Mengapa pria itu bisa dengan sabarnya memberi ucapan selamat kepada wanita yang jelas2 telah melukai hatinya?” Saat Joe menanyakan itu semua, mr. Jenggot hanya berkata,”Biarkan waktu yang menjawab semuanya, karena hanya waktu yang mengerti cinta.”

Dinamit tidak mengerti maksud dari ucapan tersebut, tapi ia tahu berlama-lama di sana tidak akan menjawab pertanyaannya. Ia segera beranjak, merogoh koceknya dan mengeluarkan uang.

“Hei, jenggot. Terima kasih untuk ceritanya. Gw ngga nyangka pria barbar kayak lu mengerti bahasa gw.” Ucap Joe sambil meletakkan uang di meja kasir. “Semoga ini cukup untuk merenovasi kedai ini.” Dinamit meletakkan Rp.2000. Dasar pelit

Ia pergi meninggalkan warung itu dan masuk ke el Macho. Telepon genggamnya dipenuhi panggilan tidak terjawab. 10 panggilan tidak terjawab, 6 sms baru, dan 10 email baru. Dari seluruh email yang ada, satu yang menarik baginya. Email itu dikirim oleh ShiFu Len Uw Wow, bertuliskan,”I’ve found Her!!! Gw uda di stasiun keretaaa. Kesini sekaraanngg!!!”

Inilah email yang ia tunggu-tunggu. Menginjak pedal gas hingga pooolll, ia menuju ke stasiun kereta.

“I finally got you!”

Apa maksud dari email tersebut? Hendak pergi kemanakah Joe Dinamit? Apakah benar Rp.2000 dapat meng-cover biaya kerusakan warung kopi tersebut? Gimanaa sih kisah putus cinta Joe Dinamit?! Daritadi belum terjawaabbb!! Semua akan terjawab di “Break-up Story: Fooled by Love.”