*Maaf ya kalo tulisannya rada acakadut. Sulit meng-edit tulisan lewat Blackberry
“Though I’m just a footnote in your story, you’re a chapter in mine…”
Malam itu hujan turun dengan derasnya, namun Joe tidak ada niatan memperlambat atau menghentikan laju El Macho„, kecuali menemui Lampu lalu lintas. Alhasil dalam waktu kurang lebih 30 menit, ia sudah sampai di stasiun kereta.
Ia meloncat keluar, berlari ke loket hanya untuk menemukan loket karcis belum dibuka! Jam di tangannya menunjukkan pukul 04.00, pantas saja tidak ada tanda kehidupan di stasiun itu. ShiFu Len Uw Wow pun tak tahu di mana. Mungkin dalam perjalanan menerjang hujan badai.
Walau dengan berat hati, ia hanya bisa duduk dan menunggu hingga loket dibuka. Namun dengan adanya waktu lowong ini, ia jadi punya waktu untuk memikirkan apa yang harus dikatakan ke Belle saat mereka bertemu. Merangkai kata bukan hal yang mudah apalagi apabila kata-kata yang akan keluar selanjutnya menentukkan cinta di kemudian hati.
“Belle, aku… Tunggu… Emm…. Damn!” Ucap Joe dengan pelan-pelan, takut dianggap orang gila oleh para penunggu stasiun di sampingnya.
Sembari Ia terus mencoba untuk menyusun kata, suaranya makin terdengar keras. Tidak butuh seorang jenius untuk menyimpulkan pria ini berniat untuk memenangkan cintanya kembali.
“Aaarrrgghhh!!! Tidak ada gunanya.” Dinamit geram. “Kalaupun ada kata-kata yang dapat memenangkan dia kembali, pasti bukan dari mulut gw.” Ucapnya dengan penuh kecewa. Tekadnya yang sudah bulat menjadi lonjong, lalu jadi persegi panjang, sampai akhirnya menjadi persegi. Lebih baik ia melupakan segala-galanya dan mengubur niat untuk menemuinya jauh-jauh.
Saat hendak bangun dan pergi meninggalkan bangku… Seseorang tua menggenggam tangan Joe erat. Sedikit membelai-belainya malah. Membuat orang manapun yang melihat, merasa sedikit merinding.
“Tunggu!” Ucap pria tua itu.
Tersentak kaget, Joe mencoba untuk melepaskan genggaman pria tua itu. “Lepaskann!!! Kyaaaaaaa…. Dasar tua-tua keladi!” Teriak Dinamit, khawatir akan diperkasai pria tua itu. Jeritan diikuti bitch slap pada kedua pipi orang, ditambah colokan pada kedua lubang hidung. alhasil genggaman lepas, pria itupun jatuh.
Lagi-lagi seorang pria terkapar di tangan Joe Dinamit. Lagi-lagi tampak pucat, pasi. Dan lagi-lagi pria ini mendadak mulai bercerita.
“Hey anak muda, saya sudah 50 tahun mencintai gadis yang sama sepenuh hati.” Ucap pria itu dengan senyum puas. Namun senyum itu mendadak jadi murung. “Penyesalan saya yang utama adalah, gadis itu tidak tahu kalau saya mencintai dia hingga akhirnya dia wafat 2 tahun yang lalu. Saya diberitahukan bahwa cinta sejati tak harus memiliki, jadi cukup saya yang merasakan tanpa ia harus tahu. Dalam kisah hidupnya, saya hanyalah sebuah catatan kaki… Seandainya saya bisa memutar balik waktu…”
“Diam!” Teriak Joe. “Tidak usah diteruskan. Saya tau apa yang akan saya ucapkan dan saya tidak akan berhenti hingga saya mengucapkannya. She’s a chapter I never want to stop writing and she has to know that.” Ucap Dinamit sambil membantu pria itu bangkit dari keterpurukannya.
Waktu menunjukkan pukul 05.00, loket karcis telah dibuka, Shifu Len Uw Wow telah hadir dan merekapun membeli tiket untuk pergi ke tempat Belle berada, Pulau Rasa. Kereta datang tepat pukul 06.00, dan siap untuk berangkat. Dengan ketetapan hati yang sudah mumpuni, perjalanan jauh itu pun mereka mulai.
#Mengapa semua orang mendadak curcol setelah baku hantam dengan Joe Dinamit? Akankah pesan yang dibawanya tersampaikan dengan tepat? Darimana sajakah Shifu Len Uw Wow selama ini? Sebenarnya siapakah Belle ini? Dan bagaimana kisah putus cinta Dinamit??? Simak kelanjutannya di “Break-up Story: When Reality meets Expectation
-
bullynme liked this
-
joedinamit posted this