“Love is not an option, it’s a decision.”
kereta paling pagi menuju Pulau rasa. Tidak banyak penumpang, sunyi senyap. Di gerbong VVVIP yang harga tiketnya Rp. 1 miliar dolar ringgit, duduklah dua pria bernampilan klimis, rapih, menawan, wanita manapun tergoda. Salah satunya Joe Dinamit yang berbusanakan topi kupluk fancy, dan satunya lagi ShiFu Len U Wow yang berbusanakan tas pinggang merk Louis Vitton. Sangat pantas bila ia dipanggil, Sir Fancy.
Keduanya terlihat tengah sibuk dengan aktivitas masing-masing. Sir Fancy sedang membaca koran sambil mengunyah donat yang ia beli di stasiun kereta, sedangkan Dinamit mengunyah koran sambil membaca dua donat.
Walau tampak sibuk, sangat terlihat bahwa Shifu Len U Wow terlihat penasaran dan memiliki sebuah pertanyaan, tetapi karena canggung, dan baru pertama kali melihat manusia mengunyah koran, ia terus menggigit bibirnya, menahan pertanyaannya.
Tiba saatnya, bagian Klasika sudah tertelan, akhirnya sir Fancy, mengutarakan kegundahan hatinya.
“Jadi… Apa yang akan kau sampaikan kepadanya sesampainya kita di sana?” Tanya ShiFu Len U Wow kepada Joe Dinamit.
“….”
Pertanyaan yang sungguh sederhana dan tidak rumit, namun Dinamit hanya mampu diam seribu bahasa menghadapinya. Tak bisa menjawab, ia mengunyah pula donat yang ia beli sendiri. Menyisakan satu donat bertabur gula putih untuk kesempatan lain.
Perjalanan kali ini walaupun tampaknya mendadak, sebenarnya sudah direncanakan dengan matang. Tiket perjalanan sudah dipesan oleh Harjo, dari jauh hari. Semua ongkos perjalanan ditanggung pula oleh Harjo, cukup dibayar dengan kartu kredit. Namun semua perencanaan itu berhenti sampai di Stasiun. Apa yang akan dilakukan oleh Joe, semua kembali ke pilihan Dinamit.
Mendengar pertanyaan Sir Fancy, Joe pun tersadar bahwa dirinya tidak memikirkan secara matang apa yang akan dilakukannya di sana. Tak mampu menjawab, kesunyian pun kembali terasa di gerbong itu.
“…”
“Shifu, gw ke WC dlu ya.” Ucap Dinamit.
Shifu hanya mengangguk.
Dinamit tampak kosong, tak berotak. Sembari berjalan pikirannya melayang-layang. Hingga akhirnya…
“BUK!!” Benturan terjadi. Joe yang melamun sambil jalan, menabrak seorang perempuan muda yang sedang membenarkan lokasi kopernya. Perempuan itu sampai terjatuh. Sebagai seorang lelaki lembut, Dinamit membantunya berdiri.
“Kamu gpp kan?” Ucap Joe dengan halus. Dasar bajingan, semua wanita selalu digoda.
“Tidak apa. Karena dari rasa sakit, kita dapat memetik banyak pembelajaran.” Jawab perempuan itu dengan mata berkaca-kaca.”Kiranya, anda bersedia mendengar cerita saya?”
“Huh!? Apa?!” Joe tersentak. Mendadak timbul kegalauan dari sang perempuan. Yang harus disadari adalah, kebanyakan hal dalam hidup bukan matematika. Ini bukan keadaan di mana negatif bertemu negatif menjadi positif. Galau bertemu galau ya menjadi super galau. Namun melihat keadaan perempuan yang sungguh terpukul itu, ia tak kuat hati untuk menolak mendengar ceritanya. Walau itu hanya akan menambah kesedihannya.
Kira-kira 3 tahun yang lalu, perempuan itu jatuh cinta kepada seorang pria. Keduanya bertemu karena menjadi rekan kerja. Mereka ditempatkan di Pulau Rasa, dan disana tumbuhlah rasa cinta. Sayangnya pria itu sudah ada yang punya, dan dirinya pun tidak lagi sendirian. Sang pria memberikan janji-janji bahwa mereka akan meninggalkan segalanya, memulai sesuatu yang baru. Di Pulau Rasa dan hidup bahagia selamanya. Sang perempuan jatuh sejatuhnya. ia pun mengakhiri hubungannya dengan kekasihnya di kampung halamannya. Ia yakin hidupnya akan lebih bahagia dengan pria ini… Sayang semua tidak semudah itu.
Kontrak kerja mereka berakhir, tiba saatnya mereka kembali ke kampung halamannya. Hari itu tanggal 10 Mei 2008. Keduanya berdiri terdiam di stasiun kereta menunggu kereta masing-masing. Sang perempuan tidak mampu menahan isak tangisnya, mencoba menenangkannya sang pria memeluknya erat.
“Hey kamu tahu kan aku sayang sama kamu dan berpisah dengan mu akan menyakitkan buat aku.” Ucap sang pria sambil memeluk erat sang perempuan. Pria manapun memang gombal yaa. “Berikan aku satu bulan, dan temui aku kemabli di sini, kita mulai lembaran baru, kau dan aku.”
:)
“Baiklah.” Ucap perempuan itu.
Kereta sudah datang, keduanya menaiki keretanya masing-masing dan perpisahanpun tak terelakan.
Sebulanpun berlalu, tepat tanggal 10 Juni sang perempuan berangkat kembali ke Pulau rasa. Sesampainya di sana, dengan penuh harapan, ia menunggu sang pria datang dari kampungnya dan mereka hidup bahagia selamanya. Namun anehnya, tak tampak batang hidung pria itu.
“Mungkin ia butuh waktu lebih lama lagi.” Pikirnya. Ia mencoba berpikir positif dan pulang kembali ke kampungnya. “Bulan depan mungkin ia akan datang.”
Bulan demi bulan dilewati. Saat ini sudah jadi perjalanannya yang ke-37 ke pulau rasa.
“Aku rasa kali ini akan jadi perjalanan ku yang terakhir.” Ucap perempuan itu kepada Dinamit. “Kita akan selalu punya harapan, namun kenyataan tidak selalu mengikuti harapan-harapan kita. Mungkin aku yang terlalu bodoh, masih terus berharap dia akan datang.” Ucap perempuan itu sambil tersenyum, tapi tampak air mata menetes membasahi pipinya.
“Sepertinya tidak ada yang bisa saya ucapkan untuk meringankan sakit yang anda rasakan.” Ucap Joe sambil menawarkan tissue. “Namun apabila itu terjadi kepada saya, saya juga akan melakukan hal yang sama. There’s something about love that can’t stop you having expectation of a happy life.”
Tak lama setelah berbincang Joe Dinamit beranjak pergi karena blas-nya FULL. Usai mengosongkan, perempuan itu sudah hilang. Mungkin pindah ke gerbong sebelah, takut ditabrak lagi oleh Joe. Dinamit pun kembali ke kursinya.
“Shifu.” Joe memanggil.
“Yaa?” Jawab Len U wow.
“Untuk saat ini tidak terpikirkan apapun yang akan disampaikan untuknya, tapi gw yakin bila saatnya tiba, gw akan siap menyampaikan yang harus disampaikan.” Ucap Joe. “Kita lihat saja, bagaimana harapan-harapan yang gw punya saat ini, akankah sesuai dengan kenyataan nanti.”
“Oke, Joe.” Ucap ShiFu Len U Wow. “Bolehkah gw nanya lagi?”
“Yap! Tanya saja”
“Tadi sudah cuci tangan, belum?”
“….”
TENG TENG TENG TENG
“Perhatian-perhatian. Sesaat lagi kita akan sampai di perhentian terakhir, Pulau Rasa. Harap para penumpang memeriksa barang bawaannya sebelum meninggalkan Kereta. Terima kasih.”
“Are you ready?” ShiFu Len U Wow bertanya.
:] “Yeah. Ready as I ever be.”
->Akhirnya Joe Dinamit semakin dekat dengan Belle. Walau masih diliputi keraguan, Joe yakin dari hatinya yang terdalam bahwasalnya ia harus menemui Belle. Akankah semua perjalanan ini berakhir percuma? Akankah berakhir bahagia? Sudahkah Joe mencuci tangannya? Bagaimana sih kisah putus cintanya? Semua akan terjawab di Break-Up Story: The Love/Hate Relationship