“Love is just a dream I never want to wake up from.”

Setelah 6 bulan paling berat dalam hidupnya, tiba saat yang ia tunggu-tunggu. Kesempatan untuk memperbaiki segalanya, kesempatan untuk mengembalikan keadaan seperti semula, kesempatan untuk meraih kebahagiaannya. Beberapa saat lagi, ia akan bertemu dengan pujaan hatinya.

Demi mempersingkat waktu sebelum kereta berhenti total, Joe sudah loncat keluar kereta terlebih dahulu. Alhasil ia terguling-guling dan lecet sana-sini. Untungnya ShiFu Len Uwow tidak gegabah dan tidak mengikutinya. Karena dengan meninggalkan kereta terburu-buru, barang bawaan Dinamit, yakni tas pinggang merk Hermes seharga 17 miliar rupiah jadi tertinggal di dalam kereta. Memang dasar pria cekatan dan fancy (serta gemar mengutil) ShiFu Len Uwow, tanpa diberitahukan pun semua barang bawaan sudah ia jinjing di pundaknya. Mental porter

Mengetahui semua barang bawaannya sudah aman, Joe melanjutkan guling-gulingnya hingga sarana transportasi terdekat. Angkot.

“Pak!” Teriak Dinamit sambil memegang tangan supir angkot yang sepertinya ingin mengupil. Keduanya tampak saling memandang, lumayan lama pula. Kira-kira 5 menit, tanpa mengucap kata-kata apapun. ShiFu Len Uwow cuma bisa geleng-geleng kepala. Tiba-tiba…

“Baiklah, nak. Cepat naik. Mari kita temukan cintamu.” Ucap Pak Supir angkot sambil tersenyum lebar.

:O
“Apa yang terjadi?!” Teriak Mr. Fancy sambil menggaruk-garuk kepalanya dengan jari jemarinya yang rutin di manicure.

Sambil berpangku tangan Joe berkata,”Hmph… Laki-laki sejati tidak butuh kata-kata untuk menjelaskan maksud hatinya. Let’s go, bebeh!” Dinamit naik di kursi depan sedangkan ShiFu dan semua barang bawaannya naik di kursi belakang.

VROOOm!!! VrOOOMMM!!!
Sang supir angkot menginjak pedal gas seperti menginjak…. Ya… Pedal gas (emang apalagi yang diinjak kalo bukan pedal gas?)

Mereka menuju sebuah kabin tua di tengah pulau, yang kabarnya didiami oleh seorang perempuan berambur panjang, berparas cantik, rajin berdoa dan memiliki tato macan tutul di bahu kanannya. Cocok sekali dengan deskripsi Belle. Perjalanan ke sana akan memakan waktu kira-kira 1 jam 15 menit.

Wajah Joe terlihat seperti anak SD yang mendapatkan nilai 10 untuk PR matematika, pasti diajak mama makan di restoran. Berbeda dengan wajah ShiFu, penuh kebingungan. Di hatinya ada satu pertanyaan yang sangat mengusik dan gatal untuk ditanyakan. Namun ShiFu khawatir pertanyaannya akan merusak suasana yang bahagia sejahtera itu. Akhirnya karena tidak tahan lagi, ia memberanikan dirinya untuk bertanya kepada Dinamit.

“Joe…” Ucap ShiFu dengan nada malu-malu.
“Ada apa, Mr. Fancy?” Jawab Dinamit.
“Kita sudah sampai sejauh ini dan gw penasaran aja. Apa sih yang akan lu katakan kepada Belle?”

CKITTTTT!!!!
Mendadak angkotnya rem mendadak! Isi angkotpun terpental-pental, termasuk di dalamnya ShiFu dan JD
“BOCAAHHH!!! Apa yang telah kau lakukan ?!” Teriak sang supir angkot!
ShiFu langsung kebingungan.”Apa maksudnya, pak?!” Tanyanya.
“Lihat hasil perbuatann muu!!!” Ucap sang supir angkot sambil menunjuk ke arah Dinamit.

Wajah Joe tampak pucat pasi, tatapannya kosong, konjungtiva anemis, refleks bulu mata hilang. Pertanyaan dari Len UWow telah berhasil menginduksi Dinamit hingga kehilangan kesadarannya!!!

“Bangun, Joe!!! Bangun!!! Uda lupakan saja gw pernah nanya lu! Bangun Joe!!” Ucap ShiFu sambil menampar-nampar pipi Dinamit yang kabarnya sehalus pantat kambing muda.

“Sudahlah…. Semua itu percuma. Semua orang yang melihat juga tahu, kalau pria bodoh ini ketakutan dan tidak tahu harus bilang apa kepada wanita-nya. Lihat perbuatanmu! Sekarang dia hanya seperti sayuran, terjebak dalam pikirannya. Hanya satu yang bisa membangkitkannya, yakni apabila ia sudah menemukan jawaban dari pertanyaan itu.” Ucap supir angkot yang ternyata bijak itu namun sepertinya sedikit gay karena ia mengatakannya sambil mengusap kepala ShiFu dengan mesra.

“Benar juga… Semoga ia bisa menemukan jawabnya.” Ucap ShiFu sambil tetap menampar-nampar wajah Dinamit.

Walau pipinya sudah timbul hematom, yang Joe rasakan hanyalah kegalauan tanpa batas, mengingatkannya kembali kepada momen-momen di saat hatinya hancur berkeping-keping..ping..ping..

Namun tidak semua kenangan-kenangan tersebut membuatnya sedih dan runtuh. Banyak kenangan yang justru sangat membahagiakan dan tiada duanya. Kenangan yang tidak henti-hentinya membuat ia tersenyum.

Every relationship is a love/hate relationship, it started when you love each other without hating and it ended when you hate each other and stop loving.

Nampaknya untuk menemukan jawaban dari pertanyaan itu nampaknya Joe harus mengingat segalanya dari awal…

-Di menit-menit menuju pertemuannya dengan Belle, Dinamit menyusun kata-kata yang tepat untuk menyampaikan maksud hatinya kepada Belle. Apakah yang akan ia katakan? Mampukah ia menyusun kata-kata itu dalam waktu yang singkat itu? Bagaimanakah kisah putus cinta Joe? Simak kelanjutannya di bagian pertama dari edisi terakhir, “Break-Up Story: If Love is the Answer, could you rephrase the question ~Part1~”-